Menjamurnya beragam program diet dan penurunan berat badan juga ditandai oleh semakin menjamurnya tren pemanis buatan. Sebut saja aspartam, siklamat, sukrolosa, dan sakarin biasa digunakan pada makanan olahan seperti sirup, soda, selai, hingga permen karet.
Berkat kandungan kalorinya yang irit serta efeknya yang tidak melonjakkan gula darah, pemanis sintetik ini tak hanya memungkinkan para penganut diet untuk terus menikmati makanan minuman favoritnya sembari mengikis beberapa kilo dari timbangan, namun juga lazim digunakan oleh para diabetisi yang harus mengurangi asupan gula. Lantas, kenapa ada anggapan bahaya pemanis buatan bisa bikin gemuk? Jadi, apakah pemanis buatan bikin gemuk atau kurus? Simak jawabannya berikut ini.
Manfaat pemanis buatan untuk diet
Salah satu klaim yang paling sering dikatakan yaitu bahwa pemanis buatan dapat membantu diet mengurangi berat badan. Mayoritas orang yang menggunakan pemanis buatan memiliki tujuan untuk menurunkan asupan kalori agar dapat menurunkan atau mempertahankan berat badannya.
Mayoritas pemanis buatan tidak mengandung kalori. Atau kalaupun ya, total kalorinya sangat sedikit. Jenis pemanis buatan yang mengandung kalori adalah golongan pemanis yang berasal dari alkohol seperti manitol, sorbitol, dan xylitol.
Dengan jumlah kalori yang sedikit bahkan hampir tidak ada, pemanis buatan sering digunakan dalam produk yang dikhususkan bagi mereka yang sedang diet. Sebagai perbandingan, jika berat badan Anda kurang lebih 55 kg dan Anda menyeduh kopi menggunakan dua sachet pemanis buatan, maka Anda bisa mengonsumsi sekitar 116 gelas kopi untuk mencapai batas maksimum konsumsi pemanis buatan dalam sehari. Coba bandingkan berapa banyak kalori yang Anda konsumsi jika Anda menyeduh 116 gelas kopi menggunakan gula pasir. Penggunaan pemanis buatan jelas bisa memotong jumlah asupan kalori Anda yang berasal dari gula.
Selain itu, pemanis buatan cenderung tidak meningkatkan kadar gula darah, karena memang bukan termasuk karbohidrat. Beda dengan gula pasir yang termasuk golongan karbohidrat dan dapat memicu kerja insulin ketika dikonsumsi. Maka pemanis buatan sering pula ditemukan dalam produk makanan khusus bagi penderita diabetes. Inilah yang mendasari penggunaan pemanis buatan untuk diet.
Bahaya pemanis buatan menyebabkan berat badan naik
Banyak penelitian yang melaporkan bahwa orang-orang yang rutin mengonsumsi pemanis buatan memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi pemanis buatan. Salah satu penelitian milik periset di Washington University bahkan menemukan bahwa ada peningkatan lingkar pinggang dan jumlah lemak perut yang dipicu oleh aktivitas suatu gen yang terkait dengan produksi sel lemak baru akibat konsumsi sukralosa. Timbunan lemak perut itu sendiri sudah lama terkait dengan beragam masalah kesehatan, salah satunya obesitas.
Para pakar percaya bahwa konsumsi pemanis buatan yang berkepanjangan bisa meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap gula sehingga menyebabkan otak semakin kecanduan gula. Rasa pemanis buatan bisa berkali lipat lebih manis dari gula biasa (sukralosa, misalnya, 600 kali lebih manis dari gula putih biasa). Ini mendorong kecenderungan ngidam dan ketergantungan gula yang kemudian meningkatkan motivasi Anda untuk makan lebih banyak.
Pasalnya, gula olahan dapat menaik-turunkan gula darah dengan cepat, yang berimbas pada timbulnya rasa lapar. Ketika Anda mengonsumsi pemanis buatan tanpa kalori, tubuh Anda akan terus menerus menginginkan asupan kalori untuk membalas kekosongan itu sehingga pada akhirnya Anda mengonsumsi kalori dalam jumlah yang lebih banyak.
Beragam penelitian lainnya mendapatkan bahwa makanan dan minuman yang dimanipulasi dengan pemanis buatan mengganggu respons tubuh dalam mengatur keseimbangan energi dan glukosa. Metabolisme tubuh manusia melibatkan ribuan reaksi kimia yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan, termasuk mengubah makanan menjadi energi dan membuang limbah tubuh. Setiap gangguan dalam proses ini dapat menyebabkan penurunan tingkat metabolisme, yang dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan, termasuk salah satunya membuat lebih sulit untuk menurunkan berat badan.
Jadi, pemanis buatan bikin kurus atau bikin gemuk?
Ini semua tergantung dari bagaimana dan seberapa sering Anda mengonsumsinya. Apapun yang dikonsumsi berlebihan tentu tidak baik untuk kesehatan. Di sisi lain, beberapa studi lain tidak ditemukan adanya bukti penurunan berat badan ketika peneliti sengaja menggantikan konsumsi gula partisipan dengan pemanis buatan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) menetapkan batas konsumsi harian untuk setiap pemanis buatan, yang merupakan jumlah maksimum dianggap aman untuk dikonsumsi setiap hari selama seumur hidup. Contohnya, FDA menetapkan jumlah maksimum aspartam per hari sebanyak 50 mg per kilogram (mg/kg) berat badan. Maka jika Anda memiliki berat badan 50 kg, konsumsi aspartam maksimal per hari adalah 2.500 mg.
Sulit untuk menentukan apakah akan ada masalah kesehatan jangka panjang tertentu jika Anda mengonsumsi pemanis buatan. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait bahaya pemanis buatan dan pengaruhnya bagi kesehatan. Yang pasti, tidak semua jenis pemanis buatan diciptakan sama dan sesuai untuk menggantikan gula alami. Meski aspartam, neotam, dan sukralosa dianggap aman untuk wanita hamil, tetapi sakarin dan stevia belum disetujui untuk digunakan oleh wanita hamil atau menyusui. Studi kohort di Denmark yang meneliti 59.334 wanita dari tahun 1996 hingga 2002 menemukan bahwa bahaya pemanis buatan dalam minuman ringan dapat meningkatkan persalinan prematur.
Jika Anda mengalami efek samping yang tidak diinginkan ketika mengonsumsi pemanis buatan, maka berhenti menggunakannya adalah cara terbaik.
The post Sebenarnya Pemanis Buatan Bikin Gemuk Atau Kurus? appeared first on Hello Sehat.
Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2iUoz4k
via IFTTT