Sabtu, 16 Desember 2017

5 Mitos Aborsi yang Ternyata Salah Besar dan Menyesatkan

Ketidakmampuan membiayai, kurangnya dukungan keluarga, masalah dengan pasangan, trauma kekerasan seksual (misalnya perkosaan), serta tekanan sosial karena hamil di luar pernikahan merupakan beberapa alasan wanita melakukan aborsi. Sayangnya, wanita sekalipun belum banyak yang benar-benar memahami apa itu aborsi secara medis dan tidak bisa mengakses informasi yang akurat seputar aborsi. Akibatnya, banyak wanita hanya mengandalkan berbagai mitos aborsi yang tentu saja menyesatkan sekaligus membahayakan. 

Mitos 1: Aborsi bisa dilakukan kapan pun dalam masa kehamilan

Mitos aborsi ini sering disalahgunakan oleh beberapa wanita yang tidak menginginkan kehamilan karena alasan tertentu diluar kondisi medis. Faktanya, aborsi tak bisa dilakukan sembarangan waktu atau kapanpun saat seorang wanita menginginkannya. Di beberapa negara, dokter diperbolehkan melakukan aborsi pada saat usia kandungan masih sangat muda, pada trimester pertama dan ada yang memperbolehkannya sampai trimester kedua. Meski begitu, melakukan aborsi pada usia kandungan mencapai trimester ketiga sangat dilarang karena berkaitan dengan kehidupan janin dan ibu yang tengah mengandung. Sementara itu di Indonesia, aborsi sendiri merupakan tindakan terlarang jika bukan karena alasan kesehatan atau kondisi medis tertentu. 

Mitos 2: Aborsi bisa bikin mandul

Mitos aborsi ini sering menjadi momok besar bagi wanita yang harus melakukan aborsi karena ada kondisi medis tertentu. Berdasarkan pasal 75 UU Kesehatan, disebutkan hanya dua kondisi yang dikecualikan bisa melakukan aborsi.

Yang pertama dipandang dari sisi medis, yaitu indikasi darurat kesehatan pada usia dini kehamilan yang mengancam nyawa ibu dan/ atau janin, janin yang menderita penyakit genetik berat, atau cacat bawaan yang tidak dapat disembuhkan sehingga sulit bagi janin untuk bertahan hidup di luar kandungan.

Yang kedua adalah kehamilan akibat perkosaan yang bisa menyebabkan trauma psikologis. Ini pun dengan syarat korban harus sudah menjalani konseling sebelum aborsi dan mendapatkan persetujuan dari tokoh agama.

Jika memang karena salah satu kondisi ini (atau lebih) Anda harus melakukan aborsi, Anda tidak perlu khawatir tidak bisa hamil lagi. Jika dilakukan sesuai dengan prosedur medis rumah sakit, belum ada bukti ilmiah bahwa aborsi bisa menyebabkan seseorang mandul atau tidak bisa hamil lagi. Kecuali jika Anda melakukan aborsi ilegal yang tidak hanya bisa merusak kandungan Anda, tapi juga membahayakan diri hingga menyebabkan kematian. 

Mitos 3: Aborsi lebih berbahaya dari melahirkan

Sama seperti melahirkan, aborsi memang bisa menyebabkan komplikasi. Meskipun begitu, beberapa penelitian tidak menunjukkan bahwa aborsi lebih bahaya daripada melahirkan. Hal ini bergantung pada praktik aborsi yang dilakukan. Yang paling berbahaya adalah melakukan aborsi melalui praktik-praktik ilegal pada orang yang tak memiliki kemampuan medis mumpuni serta dengan peralatan yang tak sesuai standar bedah. 

Namun, bila dilakukan dalam lingkungan terkontrol dengan para ahli, misalnya di klinik bersalin atau rumah sakit, berbagai risiko dan komplikasi aborsi sangat bisa diminimalisir.

Mitos 4: Aborsi bisa menyebabkan kanker payudara

Pada Maret 2003, National Cancer Insitute (NCI) di Kanada menunjukkan tak ada kaitan antara aborsi dengan risiko kanker payudara. Untuk itu, hingga saat ini belum ada bukti jelas mengenai kaitan ini, serta dari mana mitos aborsi ini berkembang.

Mitos 5: Aborsi menyebabkan depresi dan trauma psikologi berkepanjangan

Trauma dan depresi setelah aborsi ini telah diajukan sebagai salah satu alasan penolakan aborsi oleh kelompok antiaborsi di Amerika sejak tahun 1980-an. Meski begitu, peneliti tak menemukan adanya bukti bahwa wanita yang melakukan aborsi akan merasakan depresi atau trauma yang disebut post-abortion syndrome.

Faktanya, seperti yang dilansir dari Huffington Post, 95 persen wanita yang melakukan aborsi pada akhirnya merasa telah membuat keputusan yang tepat. Ibu hamil yang memiliki kondisi medis tertentu, justru akan merasakan stres saat kehamilannya tidak berjalan normal dan malah membahayakan dirinya sendiri dan janin.

The post 5 Mitos Aborsi yang Ternyata Salah Besar dan Menyesatkan appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2zgBQKA
via IFTTT

Related Posts

5 Mitos Aborsi yang Ternyata Salah Besar dan Menyesatkan
4/ 5
Oleh