5 Mitos Aborsi yang Ternyata Salah Besar dan Menyesatkan
Hello Sehat IFTTT



Posisi tidur dapat memengaruhi kesehatan Anda. Memilih posisi tidur yang baik akan meningkatkan kualitas tidur dan Anda akan mendapatkan manfaat kesehatannya. Sebaliknya, posisi tidur yang buruk akan berujung pada kelelahan, gangguan tidur, sakit kepala, sakit maag, dan nyeri punggung. Nah, ada bermacam-macam posisi tidur yang baik untuk Anda terapkan, salah satunya adalah tidur miring. Anda bisa menerapkan tidur miring kanan juga ke kiri, tapi sebenarnya mana yang lebih baik? Harus miring ke kiri atau kanan?
Pada umumnya, Anda disarankan untuk tidur dengan posisi miring, sehingga gaya gravitasi bisa terjaga untuk menjaga isi perut. Posisi tidur miring dapat mencegah sakit leher dan sakit punggung, mengurangi naiknya asam lambung, mengurangi dengkuran, dan bermanfaat bagi orang yang memiliki sleep apnea obstruktif (berhentinya napas sementara saat tidur).
Posisi miring juga dianjurkan bagi ibu hamil. Posisi tidur ini baik untuk tulang belakang. Pasalnya, pada posisi ini tulang belakang bisa memanjang, sehingga akan membantu meredakan nyeri punggung selama kehamilan.
Arah posisi tidur miring juga memiliki manfaat tertentu. Tidur miring ke sisi kanan dapat melonggarkan tekanan pada hati, paru-paru, dan perut. Sedangkan tidur miring ke sisi kiri dapat mengurangi refluks asam lambung. Tidur miring ke sisi kanan dapat melindungi jantung dari posisi tertindih atau tertekan organ tubuh lainnya.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam The Journal of Clinical Gastroenterology melaporkan bahwa tidur miring ke sisi kiri adalah posisi terbaik untuk Anda yang punya masalah pencernaan. Ketika Anda tidur miring ke sisi kiri, persimpangan antara lambung dan kerongkongan Anda akan tetap berada di atas cairan asam lambung.
Sementara kalau Anda tidur miring ke sisi kanan, lingkaran otot yang menahan asam lambung akan merenggang sehingga cairan asam lambung dapat mengalir ke kerongkongan. Hal tersebut bisa menyebabkan gejala-gejala seperti dada terasa perih terbakar (heartburn), batuk, dan mulut terasa asam. Pada beberapa orang, gejalanya bisa cukup parah sampai Anda tiba-tiba terbangun dari tidur.
Tidur miring ke sisi kanan membuat esophageal sphincter (saluran antara perut dan kerongkongan) melemah yang membuat asam lambung naik ke kerongkongan sehingga bikin perih di lambung. Tidur dengan posisi miring ke sisi kanan bagi orang dengan asam lambung akan meningkatkan asam lambung dan kerongkongan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghilangkannya.
Untuk ibu hamil, posisi miring ke sisi kiri juga merupakan posisi yang paling baik karena membantu melancarkan peredaran darah.
Jika di malam hari Anda sering berganti posisi tidur, cobalah untuk mengganjal belakang punggung dengan guling atau bantal. Dengan begitu, Anda pun jadi lebih susah untuk ganti posisi dan tidur miring ke sisi kanan. Jika Anda memiliki gangguan asam lambung, disarankan tidur miring menghadap ke kiri agar tidur Anda menjadi lebih nyenyak.
The post Posisi Tidur Mana yang Lebih Baik: Miring ke Kiri Atau Kanan? appeared first on Hello Sehat.

Cuci darah dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya pada pasien penyakit ginjal. Meski membawa manfaat, namun perlu diketahui ada sejumlah efek samping cuci darah yang perlu diwaspadai. Apa saja efek samping cuci darah dan cara mengatasinya?
Pada pasien penyakit ginjal kronis tahap akhir atau orang yang kehilangan fungsi ginjal lebih dari 85 persen wajib untuk melakukan cuci darah agar terhindar dari berbagai komplikasi. Termasuk penumpukan racun, zat sisa metabolisme, dan cairan berlebih pada tubuh.
Cuci darah atau dialisis terbagi menjadi dua yaitu hemodialisis dan dialisis peritoneal. Umumnya, efek samping cuci darah adalah rasa lemas yang berkepanjangan dan rasa haus karena pembatasan cairan. Meski demikian, masing-masing cuci darah memiliki efek samping cuci darah yang berbeda.
Pada metode cuci darah hemodialisis, cuci darah hanya dapat dilakukan di rumah sakit dan dapat dilakukan hingga tiga kali dalam seminggu. Seperti yang dilansir dari National Health Service, efek samping dari cuci darah ini meliputi:
Tekanan darah menurun (hipotensi) merupakan salah satu efek samping tersering dari hemodialisis. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kadar cairan dalam tubuh selama proses dialisis. Tekanan darah yang rendah dapat menyebabkan rasa mual dan pusing.
Cara terbaik untuk meminimalisasi gejala-gejala tersebut adalah tetap menjaga kebutuhan harian asupan cairan yang telah direkomendasikan oleh dokter. Jika gejala masih tetap terjadi, maka sebaiknya segera konsultasikan kepada tim dialisis di rumah sakit setempat karena jumlah cairan selama dialisis dapat segera disesuaikan.
Adanya penumpukan fosfor akibat hemodialisis bisa menyebabkan kulit menjadi gatal. Kondisi ini memang umum terjadi namun untuk mencegah atau meringankan gejala kulit gatal, Anda mungkin perlu untuk menjalani pola makan khusus dan mengonsumsi pengikat fosfat secara teratur sesuai anjuran dokter.
Meskipun penyebabnya tidak jelas, kram otot selama hemodialisis dilakukan biasanya dapat terjadi. Pemanasan atau pemberian kompres hangat di area tersebut, dapat dilakukan untuk membantu melancarkan sirkulasi darah dan meredam kram otot yang dirasakan.
Efek samping cuci darah terbilang beragam pada setiap orang. Meski demikian, tindakan ini dinilai penting dijalani pada pasien penyakit ginjal, untuk membantu menggantikan fungsi ginjal sehingga bisa menjalankan metabolisme dengan baik. Konsultasi ke dokter secara berkala untuk menjaga kesehatan tubuh selama menjalani cuci darah serta mendapatkan penanganan efek samping cuci darah yang tepat dan efektif.
The post Cara Mengatasi Rasa Haus dan Efek Samping Cuci Darah Lainnya appeared first on Hello Sehat.

BERLANGGANAN VIA EMAIL