Sabtu, 16 Desember 2017

Posisi Tidur Mana yang Lebih Baik: Miring ke Kiri Atau Kanan?

Posisi Tidur Mana yang Lebih Baik: Miring ke Kiri Atau Kanan?

Posisi tidur dapat memengaruhi kesehatan Anda. Memilih posisi tidur yang baik akan meningkatkan kualitas tidur dan Anda akan mendapatkan manfaat kesehatannya. Sebaliknya, posisi tidur yang buruk akan berujung pada kelelahan, gangguan tidur, sakit kepala, sakit maag, dan nyeri punggung. Nah, ada bermacam-macam posisi tidur yang baik untuk Anda terapkan, salah satunya adalah tidur miring. Anda bisa menerapkan tidur miring kanan juga ke kiri, tapi sebenarnya mana yang lebih baik? Harus miring ke kiri atau kanan? 

Manfaat posisi tidur miring

Pada umumnya, Anda disarankan untuk tidur dengan posisi miring, sehingga gaya gravitasi bisa terjaga untuk menjaga isi perut. Posisi tidur miring dapat mencegah sakit leher dan sakit punggung, mengurangi naiknya asam lambung, mengurangi dengkuran, dan bermanfaat bagi orang yang memiliki sleep apnea obstruktif (berhentinya napas sementara saat tidur).

Posisi miring juga dianjurkan bagi ibu hamil. Posisi tidur ini baik untuk tulang belakang. Pasalnya, pada posisi ini tulang belakang bisa memanjang, sehingga akan membantu meredakan nyeri punggung selama kehamilan.

Miring ke sisi kanan atau kiri yang lebih baik?

Arah posisi tidur miring juga memiliki manfaat tertentu. Tidur miring ke sisi kanan dapat melonggarkan tekanan pada hati, paru-paru, dan perut. Sedangkan tidur miring ke sisi kiri dapat mengurangi refluks asam lambung. Tidur miring ke sisi kanan dapat melindungi jantung dari posisi tertindih atau tertekan organ tubuh lainnya.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam The Journal of Clinical Gastroenterology melaporkan bahwa tidur miring ke sisi kiri adalah posisi terbaik untuk Anda yang punya masalah pencernaan. Ketika Anda tidur miring ke sisi kiri, persimpangan antara lambung dan kerongkongan Anda akan tetap berada di atas cairan asam lambung.

Sementara kalau Anda tidur miring ke sisi kanan, lingkaran otot yang menahan asam lambung akan merenggang sehingga cairan asam lambung dapat mengalir ke kerongkongan. Hal tersebut bisa menyebabkan gejala-gejala seperti dada terasa perih terbakar (heartburn), batuk, dan mulut terasa asam. Pada beberapa orang, gejalanya bisa cukup parah sampai Anda tiba-tiba terbangun dari tidur.

Tidur miring ke sisi kanan membuat esophageal sphincter (saluran antara perut dan kerongkongan) melemah yang membuat asam lambung naik ke kerongkongan sehingga bikin perih di lambung. Tidur dengan posisi miring ke sisi kanan bagi orang dengan asam lambung akan meningkatkan asam lambung dan kerongkongan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghilangkannya.

Untuk ibu hamil, posisi miring ke sisi kiri juga merupakan posisi yang paling baik karena membantu melancarkan peredaran darah.

Jika di malam hari Anda sering berganti posisi tidur, cobalah untuk mengganjal belakang punggung dengan guling atau bantal. Dengan begitu, Anda pun jadi lebih susah untuk ganti posisi dan tidur miring ke sisi kanan. Jika Anda memiliki gangguan asam lambung, disarankan tidur miring menghadap ke kiri agar tidur Anda menjadi lebih nyenyak.

The post Posisi Tidur Mana yang Lebih Baik: Miring ke Kiri Atau Kanan? appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2yHywVo
via IFTTT
Cara Mengatasi Rasa Haus dan Efek Samping Cuci Darah Lainnya

Cara Mengatasi Rasa Haus dan Efek Samping Cuci Darah Lainnya

Cuci darah dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya pada pasien penyakit ginjal. Meski membawa manfaat, namun perlu diketahui ada sejumlah efek samping cuci darah yang perlu diwaspadai. Apa saja efek samping cuci darah dan cara mengatasinya?

Efek samping cuci darah yang perlu Anda ketahui

Pada pasien penyakit ginjal kronis tahap akhir atau orang yang kehilangan fungsi ginjal lebih dari 85 persen wajib untuk melakukan cuci darah agar terhindar dari berbagai komplikasi. Termasuk penumpukan racun, zat sisa metabolisme, dan cairan berlebih pada tubuh.

Cuci darah atau dialisis terbagi menjadi dua yaitu hemodialisis dan dialisis peritoneal. Umumnya, efek samping cuci darah adalah rasa lemas yang berkepanjangan dan rasa haus karena pembatasan cairan. Meski demikian, masing-masing cuci darah memiliki efek samping cuci darah yang berbeda.

Pada metode cuci darah hemodialisis, cuci darah hanya dapat dilakukan di rumah sakit dan dapat dilakukan hingga tiga kali dalam seminggu. Seperti yang dilansir dari National Health Service, efek samping dari cuci darah ini meliputi:

1. Tekanan darah menurun

Tekanan darah menurun (hipotensi) merupakan salah satu efek samping tersering dari hemodialisis. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kadar cairan dalam tubuh selama proses dialisis. Tekanan darah yang rendah dapat menyebabkan rasa mual dan pusing.

Cara terbaik untuk meminimalisasi gejala-gejala tersebut adalah tetap menjaga kebutuhan harian asupan cairan yang telah direkomendasikan oleh dokter. Jika gejala masih tetap terjadi, maka sebaiknya segera konsultasikan kepada tim dialisis di rumah sakit setempat karena jumlah cairan selama dialisis dapat segera disesuaikan.

2. Kulit gatal

Adanya penumpukan fosfor akibat hemodialisis bisa menyebabkan kulit menjadi gatal. Kondisi ini memang umum terjadi namun untuk mencegah atau meringankan gejala kulit gatal, Anda mungkin perlu untuk menjalani pola makan khusus dan mengonsumsi pengikat fosfat secara teratur sesuai anjuran dokter.

3. Kram otot

Meskipun penyebabnya tidak jelas, kram otot selama hemodialisis dilakukan biasanya dapat terjadi. Pemanasan atau pemberian kompres hangat di area tersebut, dapat dilakukan untuk membantu melancarkan sirkulasi darah dan meredam kram otot yang dirasakan.

Lantas, bagaimana cara mengatasi rasa haus berlebihan pada pasien penyakit ginjal?

  • Makan buah dan sayur sesuai dengan jumlah yang sudah ditentukan oleh dokter dalam perencanaan diet sehari-hari, karena pada pasien hemodialisis dengan kadar kalium yang cukup tinggi, sayur dan buah juga harus ditakar dan diolah dengan cara tertentu.
  • Lakukan perencanaan dan pembagian cairan yang akan dikonsumsi dalam sehari, misalnya jika dibatasi 1000 ml/hari dapat dibagi dalam 6 kali minum dengan pembagian: sarapan sekitar 150 ml, snack pagi 100 ml, makan siang 250 ml, snack sore 100 ml, makan malam 150 ml, dan snack malam 100 ml. Sisanya sekitar 150 ml didapat dari makanan, baik berupa sayuran, buah-buahan, sup, snack, dan lain sebagainya.
  • Minumlah cairan yang sudah didinginkan atau sudah dimasukkan es agar dapat membantu menimbulkan rasa sejuk di dalam mulut. Namun jumlah es yang dimasukkan tetap harus diperhitungkan sebagai jumlah cairan yang dikonsumsi.
  • Saat minum obat gunakan sedikit air. Sebaiknya obat diminum setelah makan, sehingga jumlah cairan yang sudah direncanakan pada saat makan juga cukup digunakan untuk minum obat.
  • Gunakan gelas yang kecil saat minum.
  • Tanyakan pada dokter yang merawat, apakah obat-obat yang diberikan akan menimbulkan efek samping berupa mulut kering.
  • Untuk mengurangi rasa kering di mulut, sikatlah gigi, kumur-kumur (menggunakan botol yang berisi air dingin yang sudah dicampur dengan daun mint dan diberikan secara spray, dimana banyaknya cairan yang digunakan tetap diperhitungkan dalam jumlah cairan yang dikonsumsi), menghisap permen dengan rasa lemon (lemon dapat merangsang pengeluaran air liur sehingga membantu mengatasi kekeringan mulut).
  • Usahakan untuk selalu berada di tempat yang cukup sejuk, tidak berlama-lama di tempat yang udaranya panas.
  • Saling bertukar pengalaman dengan pasien lain agar mendapat cara lain bagaimana mengatasi rasa haus, saling mendukung dan membantu meningkatkan kedisiplinan saat rasa haus timbul.
  • Perhatikan beberapa makanan yang tetap harus diperhitungkan dalam jumlah cairan yang dikonsumsi (pada dasarnya semua makanan yang bentuknya cair pada suhu ruang) seperti: kopi, teh, gelatin, es batu, es krim, jus, soda, susu, sorbet, sup, sayur dan buah, dengan kandungan air yang banyak (seperti semangka, melon, labu, tomat, pear, apel, wortel, nanas, timun, dan lain-lain).
  • Contoh sayuran dan buah-buahan yang kandungan airnya dapat diabaikan seperti: kol, kembang kol, brokoli, ceri, bluberi, plum, terong, lettuce, seledri, dan lain sebagainya.

Efek samping cuci darah terbilang beragam pada setiap orang. Meski demikian, tindakan ini dinilai penting dijalani pada pasien penyakit ginjal, untuk membantu menggantikan fungsi ginjal sehingga bisa menjalankan metabolisme dengan baik. Konsultasi ke dokter secara berkala untuk menjaga kesehatan tubuh selama menjalani cuci darah serta mendapatkan penanganan efek samping cuci darah yang tepat dan efektif.

The post Cara Mengatasi Rasa Haus dan Efek Samping Cuci Darah Lainnya appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2AUGUXo
via IFTTT