Minggu, 17 Desember 2017

7 Penyakit yang Tidak Bisa Dideteksi Lewat Pap Smear

7 Penyakit yang Tidak Bisa Dideteksi Lewat Pap Smear

Pap smear adalah serangkaian tes yang dilakukan untuk  mendeteksi sel-sel yang berpotensi untuk tumbuh menjadi kanker serviks. Tes ini dilakukan dengan mengambil bagian sel yang berada di sekitar permukaan leher rahim. Umumnya, wanita dianjurkan untuk melakukan pap smear secara teratur mulai usia 21 tahun. Pap smear biasanya ditujukan pada wanita yang telah menikah atau aktif secara seksual. Hal ini dikarenakan mereka yang aktif secara seksual, terlebih bagi yang sering berganti pasangan, berisiko tinggi terkena kanker atau infeksi.

Anda juga perlu tes yang lebih sering jika dinyatakan positif HIV dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena berbagai hal. Biasanya Anda dianjurkan untuk tetap melakukan pap smear meskipun memiliki hubungan dengan satu pasangan. Hal ini dikarenakan virus HPV yang menjadi penyebab kanker serviks bisa jadi ada di tubuh Anda, tapi sedang memasuki masa laten atau terselubung sehingga belum memunculkan gejala. 

Namun, tidak semua penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan kelamin dapat dideteksi menggunakan pap smear.
Berikut penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat pap smear:

1. Kanker ovarium

Kanker ovarium termasuk ke dalam penyakit kanker yang jarang terjadi dibanding jenis kanker yang lain. Namun, jenis kanker ini tidak bisa Anda sepelekan karena bisa jadi Anda berisiko terkena kanker ovarium. Untuk itu, Anda bisa mengonsultasikannya pada dokter kandungan. Masalahnya adalah tidak seperti kanker serviks yang bisa dideteksi melalui sel prakanker, kanker ovarium tidak bisa dideteksi dengan cara yang sama.

Jarang sekali sel kanker ovarium bisa dideteksi dengan tes pap smear. Jika sel kanker ovarium bergerak menjauh dari ovarium Anda melalui tuba falopi dan rahim ke daerah sekitar leher rahim Anda, sel kanker ovarium dapat dikumpulkan selama tes pap smear. Namun, ini jarang terjadi. Maka pap smear bukanlah tes yang andal untuk kanker ovarium.

Sayangnya, belum ada tes untuk mendeteksi kanker ovarium. Peneliti belum menemukan alat skrining yang cukup sensitif untuk mendeteksi kanker ovarium pada tahap awal dan cukup spesifik untuk membedakan kanker ovarium dari kondisi non-kanker lainnya.

2. Klamidia

Klamidia merupakan salah satu penyakit seksual menular yang paling umum terjadi. Di Indonesia sendiri sekitar 150 ribu kasus terdeteksi tiap tahunnya. Orang yang terinfeksi klamidia umumnya tidak menunjukkan gejala awal apa pun sampai ketika memeriksakan diri ke dokter. Namun, pada wanita umumnya jika sudah terinfeksi cukup lama akan memiliki efek di antaranya cairan keputihan yang berbau, perdarahan di luar masa menstruasi, menstruasi yang sangat menyakitkan, sakit ketika berhubungan seks, hingga rasa gatal dan panas di sekitar vagina. 

Jika Anda aktif secara seksual dan berusia di bawah 25 tahun, National Chlamydia Screening Programme (NSCP) merekomendasikan Anda harus diuji klamidia setiap tahunnya, atau saat Anda berganti pasangan seksual. Ada dua cara untuk menguji chlamydia yakni menggunakan sampel urin dan mengambil selaput dari serviks. Walaupun menggunakan selaput dari serviks, klamidia tidak bisa dideteksi lewat pap smear.

Elizabeth Etkin Kramer, MD., dokter kandungan di Florida, Amerika Serikat, mengatakan bahwa serangkaian antibiotik dapat membersihkan infeksi bakteri ini. Oleh karena itu sampel yang diambil dari dalam vagina Anda yang diambil selama pemeriksaan panggul dan tes urine sangat penting untuk mendeteksi infeksi ini.

3. Gonore

Gonore termasuk ke dalam penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Biasanya cenderung menginfeksi daerah lembab yang hangat seperti uretra, anus, vagina, tuba falopi, serviks, uterus hingga tenggorokan. Gonore akan menunjukkan gejala awalnya setelah 14 hari terinfeksi. Namun, seperti kebanyakan penyakit seksual lainnya, gonore tidak begitu menunjukkan gejala yang terlihat. Oleh karena itu penting untuk melakukan pengujian pada gonore.

Dokter tidak menggunakan pap smear sebagai pemeriksaan gonore. Sampel sel yang dikumpulkan saat tes urine bisa membantu mengenali bakteri dalam uretra Anda. Dokter juga menggunakan tes seperti swab tenggorokan, uretra, vagina, atau rektum (dubur) Anda, untuk mendeteksi bakteri ini. 

4. Trikomoniasis

Trikomoniasis adalah penyakit infeksi kelamin akibat parasit protozoa yang disebut Trichomonas vaginalis. Infeksi ini tidak fatal tetapi dapat memicu komplikasi seperti ketidaksuburan dan infeksi jaringan kulit vagina (selulitis) pada wanita. Infeksi pada masa kehamilan dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir yang ringan.

Wanita dapat mengalami gejala umum, seperti vagina bau tak sedap atau cairan vagina berwarna hijau, cairan berbuih, rasa gatal, dan bengkak pada vagina. Gejala lain berupa rasa sakit saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil. 

Dokter akan memeriksa vagina untuk mengambil sampel. Diagnosis akan dipastikan ketika parasit ditemukan pada sampel saat diperiksa dengan mikroskop. Diagnosis lain adalah dengan cara membiakkan parasit. Hasil dapat terlihat setelah pembiakkan berkisar 3 hingga 7 hari. Tes darah juga memungkinkan untuk mendiagnosis parasit.

pap smear dan tes iva deteksi kanker serviks

5. Sipilis (raja singa)

Sipilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri yang dapat menginfeksi kulit, mulut, alat kelamin, serta sistem saraf. Sipilis dikenal juga dengan nama raja singa. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Infeksi biasanya terjadi karena adanya kontak seksual. Dalam kasus yang sangat jarang ditemukan, bakteri bisa melewati celah atau luka pada kulit setelah menyentuh orang yang terinfeksi sipilis. 

Dokter dapat memperkuat diagnosis berdasarkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan tubuh pasien dengan memperhatikan organ seks, mulut, dan anus. Jika terdapat tanda penyakit sekecil apa pun, sebentuk kecil irisan jaringan atau cairan penyakit akan segera diteliti untuk mengetahui jenis bakteri menggunakan mikroskop lapang gelap (dark-field microscope).

Sebuah tes darah, dikenal sebagai VDRL, dilakukan untuk menentukan apakah terdapat antibodi (zat yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi dari bakteri Treponema pallidum) dalam darah. Tidak sampai di situ, dokter juga akan menguji pasangan seksual Anda.

6. Herpes genital

Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV). Biasanya ditandai dengan bentol-bentol berair pada alat kelamin, anus, atau mulut. Herpes genital dapat menyebar melalui sentuhan, namun lebih sering menyebar melalui hubungan seksual. Orang dengan herpes kelamin didiagnosis dengan beberapa tes, yaitu:

  • Pemeriksaan kultur virus. Pemeriksaan ini menggunakan sampel dari ulkus di kulit atau sariawan untuk mengkonfirmasi adanya virus herpes.
  • Tes Polymerase chain reaction (PCR). Tes ini memeriksa DNA Anda dari sampel darah untuk memastikan adanya HSV dan menentukan tipenya.
  • Pemeriksaan darah. Tes ini untuk memeriksa antibodi HSV, yang mendeteksi adanya infeksi virus herpes sebelumnya.

Karena itu, deteksi atau diagnosis herpes dengan pap smear tidak dibenarkan.

7. Polycystic ovary syndrome (PCOS)

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah kelainan hormonal yang umum terjadi pada wanita di usia subur. Wanita dengan PCOS mungkin menstruasinya tidak teratur atau berkepanjangan atau memiliki kadar hormon laki-laki (androgen) yang berlebihan.

Penyebab pasti PCOS tidak diketahui. Diagnosis dan pengobatan dini bersamaan dengan penurunan berat badan dapat mengurangi risiko komplikasi jangka panjang seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Deteksi PCOS dilakukan dengan melakukan ultrasound (USG). Dari situ, dokter akan memeriksa apakah ovulasi Anda normal berdasarkan pengamatan. Karena itu, pap smear tidak bisa mendeteksi penyakit PCOS. 

Satu hal yang penting diingat. Meski tidak semua penyakit bisa dideteksi dengan pap smear, melakukan pap smear sangat penting sebagai deteksi dini kanker serviks agar tidak menyesal di kemudian hari.

The post 7 Penyakit yang Tidak Bisa Dideteksi Lewat Pap Smear appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2yLa31s
via IFTTT
8 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Seputar Vaksin HPV

8 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Seputar Vaksin HPV

Vaksin HPV adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah kanker serviks, sehingga semua orang baik wanita maupun pria, dewasa dan anak-anak, perlu mendapatkan vaksinasi ini. Namun, informasi seputar vaksin HPV masih belum diketahui banyak orang. Simak penjelasan di bawah ini untuk menjawab semua pertanyaan Anda tentang vaksin HPV.

Apakah vaksin HPV aman dilakukan?

Dalam uji klinis dan pembuktian setelah digunakan di dunia nyata, vaksin HPV dinilai sangat aman. Lebih dari 205 juta dosis vaksin sudah terdistribusi di seluruh dunia), sejak disetujui pada tahun 2006 oleh Food and Drug Administration Amerika Serikat.

Organisasi kesehatan internasional terkemuka di seluruh dunia termasuk World Health Organization (WHO), US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Health Canada, European Medicines Agency (EMEA), Australia Therapeutic Goods Administration (TGA) dan yang lainnya juga terus merekomendasikan penggunaan Vaksin HPV.

WHO GACVS telah mengumpulkan data surveillance pasca-pemasaran dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan dari perusahaan manufaktur. Data tersebut dikumpulkan dari tahun 2006 sejak pertama kali diluncurkannya vaksin HPV sampai tahun 2014. GACVS menyatakan tidak menemukan isu keamanan yang dapat mengubah rekomendasi vaksinasi HPV. Profil keamanan vaksin HPV (baik bivalent maupun quadrivalent) dinyatakan aman.

US CDC juga telah menyatakan bahwa pemantauan keamanan pasca-lisensi dari Juni 2006 hingga Maret 2013 menunjukkan bahwa tidak ada masalah keamanan baru terhadap vaksin HPV.

Hasil dari studi review terbesar vaksin HPV quadrivalent dari tahun 2006-2015 pun tidak menemukan adanya bukti mengenai efek samping serius, baik jangka pendek maupun jangka panjang karena vaksin.

Kapan waktu yang tepat melakukan vaksin HPV?

Seperti yang direkomendasikan oleh CDC, baik pria maupun wanita dapat  mendapatkan vaksin HPV mulai usia usia 9 tahun. Untuk anak perempuan dan laki-laki usia 9 sampai 13 atau 14 tahun, pemberian vaksin HPV dilakukan sebanyak 2 kali. Untuk wanita dan pria dewasa, pemberian vaksin dilakukan 3 kali.  Vaksin ini dianjurkan untuk diberikan kepada wanita hingga usia 55 tahun.

Mengapa penting melakukan vaksin HPV?

Semakin dini usia Anda saat mendapatkan vaksin HPV maka semakin baik. Karena, penelitian menunjukkan bahwa respon kekebalan akan lebih kuat jika vaksin diberikan pada usia muda. Tingkat efektivitas kerja vaksin ini akan semakin tinggi.

Vaksinasi yang diberikan pada remaja putri pada saat berusia 9–13 tahun dinilai paling efektif meskipun belum melakukan hubungan seksual.  Rentang usia ini dinilai efektif karena pada masa inilah tubuh memberikan proteksi respon imun yang lebih baik dibanding usia di atasnya.

Dengan mendapatkan vaksin ini, selain melindungi diri dari strain virus HPV yang menyebabkan penyakit kutil kelamin, laki-laki juga dapat menurunkan risiko penularan strain virus HPV penyebab kanker serviks pada pasangan seksualnya di kemudian hari. Jika Anda belum mendapatkan vaksin HPV, segeralah lakukan vaksinasi. Semakin cepat akan lebih baik.

Vaksin ini akan memberikan perlindungan yang tahan lama. Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa setidaknya vaksin ini akan bertahan selama 10 tahun. Hal ini dibuktikan dengan melakukan penelitian kepada orang yang sudah melakukan vaksin HPV, dan diamati selama 10 tahun, efektivitasnya masih terbukti baik.

Bagaimana manfaat vaksin HPV dibandingkan dengan risikonya?

Vaksinasi HPV dianjurkan karena manfaatnya, seperti mencegah kanker, jauh lebih besar daripada risiko efek sampingnya. Keputusan kesehatan adalah hal yang pribadi, dan setiap orang harus membuat pilihan yang tepat bagi mereka dan keluarga mereka. Penting untuk diingat bahwa memilih untuk tidak melakukan vaksinasi, tidak akan membebaskan Anda dari risiko. Vaksin HPV mencegah penyakit kanker serviks dan penyakit  lainnya pada pria dan wanita.

Apakah vaksinasi HPV bisa menyebabkan masalah kesehatan serius?

Kebanyakan laporan efek samping menurut laporan VAERS di Amerika Serikat (Vaccine Adverse Event Reporting System) adalah ringan dan tidak membahayakan. Keluhan seperti pusing, mual, demam dan kemerahan, sakit s di bagian tubuh tempat vaksin disuntikkan telah dilaporkan.

CDC juga menganjurkan untuk melakukan pengamatan selama kurang lebih 15 menit setelah vaksinasi untuk mencegah kemungkinan terjadinya syncope (kondisi pingsan sesaat) yang mungkin dialami oleh pasien. Kondisi syncope ini bersifat sementara dan tidak membahayakan. Syncope ini dihubungkan dengan reaksi ketakutan atau panik yang bisa terjadi pada subjek yang menerima suntikan, baik vaksin maupun obat lainnya (tidak hanya spesifik karena vaksin HPV)

Apakah vaksin HPV memengaruhi kesuburan wanita?

CDC menyadari perhatian publik tentang keamanan vaksin HPV. Sejak 2006, pemantauan dan penelitian vaksin HPV yang terus dilakukan oleh CDC, FDA dan organisasi kesehatan lainnya, telah mengonfirmasi bahwa vaksin ini memiliki catatan keamanan yang sangat baik tanpa bukti bahwa hal itu menyebabkan masalah reproduksi pada wanita.

Apakah vaksin HPV aman untuk ibu hamil?

Walaupun vaksin HPV merupakan VLP (Virus Like Particle) yang merupakan vaksin inaktif dan tidak mengandung DNA virus, namun vaksin HPV tidak dianjurkan untuk ibu hamil.

Jika sesorang diketahui hamil setelah menerima suntikan pertama vaksin HPV, maka dianjurkan untuk menunda pemberian suntikan berikutnya hingga ibu tersebut melahirkan. Seorang ibu yang tidak mengetahui dirinya hamil saat mendapatkan vaksin HPV, dapat melanjutkan kehamilan nya tanpa perlu melakukan tindakan pengawasan lebih lanjut pada janin-nya Sebagai tambahan, vaksin HPV quadrivalent dapat diberikan pada ibu menyusui.

Siapakah yang disarankan tidak mendapatkan vaksin HPV?

Selain ibu hamil, vaksin HPV juga tidak boleh diberikan jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap komponen-komponen yang ada dalam vaksin ini (seperti lateks atau ragi). Jika Anda sedang menderita sakit sedang maupun berat, pemberian vaksin ini sebaiknya ditunda sampai Anda sehat benar. Sangat penting untuk berdiskusi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan Anda sebelum menggunakan vaksin ini.

The post 8 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Seputar Vaksin HPV appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2kDY7JM
via IFTTT
Wajah Anda Tampak Lebih Tua Daripada Teman Sebaya? Dua Kebiasaan Ini Penyebabnya

Wajah Anda Tampak Lebih Tua Daripada Teman Sebaya? Dua Kebiasaan Ini Penyebabnya

Mungkin Anda sudah tahu bahwa kebiasaan minum alkohol dan merokok dapat merusak kesehatan. Merokok dan minum miras dapat menyebabkan sirosis, perlemakan hati, kanker paru dan penyakit lainnya. Namun jika konsekuensi ini tidak juga menghentikan kebiasaan buruk Anda, mungkin efek yang satu ini bisa: membuat wajah Anda tampak menua beberapa tahun dari usia Anda yang sebenarnya.

Bagaimana kebiasaan minum alkohol dan merokok bikin Anda cepat tua?

Kebiasaan merokok jangka panjang lama-lama menyebabkan kulit tampak berwarna keabuan dan munculnya garis-garis halus di sekitar mata dan mulut. Meskipun awal kerusakan kulit akibat merokok sulit untuk dilihat, efeknya akan terjadi setelah 10 tahun kemudian.

Nikotin dalam rokok menyebabkan pembuluh darah di lapisan kulit terluar menyempit, sehingga aliran darah di bawah kulit jadi tidak lancar. Kulit yang tidak mendapat cukup nutrisi dan oksigen (yang dibawa oleh darah) akan cepat rusak dan kering. Selain itu, bahan kimia yang dikeluarkan melalui asap rokok juga merusak kolagen dan elastin, yaitu serat yang menjaga kelembapan dan kekenyalan alami kulit. Akibatnya, kulit mulai merosot dan lebih cepat berkerut.

Begitu juga dengan minuman beralkohol. Miras sejatinya adalah racun bagi tubuh. Ketika Anda minum minuman keras, hati akan bekerja keras untuk membilas segala racun yang ada dalam tubuh. Namun ketika kadar alkohol dalam hati sudah di luar batas wajar, racun tidak dapat dipecah dan dibuang dengan baik. Akibatnya, racun ini dapat memengaruhi kesehatan kulit — muncul jerawat, keriput, kulit kering, flek dan noda hitam, terbentuknya kantung mata, dan membuat warna kulit berubah kuning (gejala jaundice atau penyakit kuning). Terlebih, alkohol juga dapat menyebabkan dehidrasi dan kurang tidur. Dua hal ini menjadi faktor risiko penting yang dapat mempercepat penuaan kulit.

Dilansir dari Men’s Health, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiologi & Community Health menyimpulkan bahwa selain membuat Anda tampak menua, kebiasaan minum alkohol dan merokok dapat benar-benar mengubah karakterisik fisik wajah Anda. Dua kebiasaan buruk ini dilaporkan dapat meningkatkan risiko pembentukan lipatan pada daun telinga dan cincin keabuan di sekitar retina mata. Pria yang merokok juga dua kali lipat berisiko mengembangkan tumpukan plak kekuningan pada kelopak mata.

 

Jadi, masih ingin minum alkohol dan merokok?

The post Wajah Anda Tampak Lebih Tua Daripada Teman Sebaya? Dua Kebiasaan Ini Penyebabnya appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2AJfJdX
via IFTTT
Apakah Benjolan Kanker Bisa Membesar Jika Dipijat?

Apakah Benjolan Kanker Bisa Membesar Jika Dipijat?

Benjolan kanker bisa bersifat jinak (tumor) atau ganas. Nah, tumor ini akan berubah menjadi masalah bila semakin tumbuh membesar, menimbulkan rasa sakit, dan menyebar ke organ lain. Sudah banyak yang mengeluh bahwa benjolan kanker semakin membesar setelah terlalu sering dipencet atau dipijat. Apakah betul begitu atau hanya perasaan Anda saja? Berikut ulasan lengkapnya. 

Kenali dulu cara pembesaran tumor atau kanker

Benjolan (tumor) bisa membesar karena proses penggandaan sel. Awalnya, sel kanker tumbuh di jaringan tertentu yang menjadi tempat awal berkembangnya, misalnya pada lapisan kandung kemih atau saluran payudara. Sel kanker ini akan tumbuh dan membelah diri untuk menciptakan lebih banyak sel yang kemudian menjadi tumor.

Nah, jika tumor ini membesar dengan cepat, maka dapat dikatakan proses penggandaan selnya berlangsung dengan cepat pula. Karena itu, benjolan tersebut bisa dikatakan sebagai tumor ganas, alias kanker.

Apakah benjolan kanker bisa semakin besar dan menyebar jika dipijat?

Terkadang, sel kanker bisa saja pecah dari massa kanker melalui beberapa cara. Misalnya karena operasi, peremasan, pemijatan, atau trauma. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian yang mengatakan pemijatan pada area benjolan bisa membuat benjolan tersebut membesar atau menyebar.

Kemungkinan ini bisa dilihat pada dampak pemijatan terhadap tiga fase utama pada penyebaran kanker dalam tubuh.

1. Sel menyebar keluar dari tumor primer

Masuknya sel kanker ke aliran darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya melalui proses tekanan yang mendorong sejumlah sel untuk masuk ke sirkulasi darah. Bila Anda memijat benjolan yang diperkirakan menjadi tumor maka akan menimbulkan trauma pada tumor. Sebab, tekanan yang ditimbulkan akan ‘memaksa’ sel kanker untuk keluar dari tumor primernya dan masuk ke dalam sirkulasi darah dan saluran getah bening.

Bila dilakukan pemijatan yang cukup sering, terutama untuk tumor, maka kemungkinan bisa berisiko untuk memecah sel kanker yang ada. Semakin dekat kanker dengan permukaan kulit, maka semakin besar risikonya untuk menyebar bila dilakukan pemijatan.

2. Sirkulasi di aliran darah atau saluran getah bening

Hingga saat ini, penelitian terus membantah mitos bahwa pemijatan menyebabkan penyebaran sel kanker melalui sistem aliran darah dan saluran getah bening. Seandainya benar stimulasi tekanan dapat mendorong perkembangan sel kanker di aliran darah, maka aktivitas lainnya seperti olahraga, aktivitas seksual, dan aktivitas sehari-hari lainnya juga akan memberikan risiko yang sama.

Sebaliknya, aktivitas olahraga atau perawatan pijat justru memiliki efek yang baik untuk pasien kanker. Sebab, ini bermanfaat untuk menimbulkan sensasi rileks, penurunan ketegangan otot, dan mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan oleh pasien kanker.

3. Implantasi sel kanker pada organ lain

Sel kanker yang sudah menyebar bisa mencapai jaringan kapiler dan menyebar ke organ lainnya. Lantas, apakah terapi pemijatan bisa meningkatkan penyebaran tersebut? Nah, sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan atau membantah hal tersebut.

Namun, pemijatan yang tidak dilakukan dengan benar dikhawatirkan dapat menyebabkan lebih banyak sel kanker yang masuk ke pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan implantasi atau penempelan sel kanker pada organ lain.

Tidak sembarang teknik pemijatan bisa dilakukan pada benjolan kanker

Singkatnya, memang ada kekhawatiran terhadap perkembangan tumor bila terdapat kontak fisik atau rangsangan pada area benjolan atau tumor, terutama bila benjolan atau tumor tersebut mendekati permukaan kulit.

Oleh karena itu, Anda tidak bisa mengandalkan cara alternatif untuk mengobati kanker Anda, apalagi bila dilakukan teknik pemijatan di area benjolan. Sebab, salah-salah langkah saja bisa menimbulkan risiko yang lebih besar terhadap benjolan atau tumor yang ada.

Baru-baru ini, pemijatan dilaporkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Ini disebabkan terapi pijat bisa menimbulkan efek rileks, memancing aura positif, mengurangi rasa sakit dan depresi yang ditimbulkan.

Namun, tentunya tidak sembarang pemijatan yang bisa dilakukan. Pemijatan pun sebaiknya tidak dilakukan pada area yang terdapat benjolan atau tumor untuk menghindari ketidaknyamanan atau tekanan pada area yang terkena.

Meskipun Anda menginginkan pijat dan di tubuh Anda ada benjolan, baiknya Anda konsultasikan dulu pada dokter untuk menghindari risiko yang terjadi pada benjolan Anda.

The post Apakah Benjolan Kanker Bisa Membesar Jika Dipijat? appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2CrO7KH
via IFTTT