Rabu, 01 November 2017

3 Jenis Olahraga yang Tidak Akan Bikin Nyeri Sendi Kambuh

3 Jenis Olahraga yang Tidak Akan Bikin Nyeri Sendi Kambuh

Punya masalah nyeri sendi, seperti rematik dan osteoarthritis, bisa menghambat lancarnya aktivitas sehari-hari karena takut rasa nyerinya makin parah kalau dipakai bergerak. Namun, sebenarnya ada banyak macam olahraga yang bisa Anda lakukan untuk mencegah gejala nyeri sendi kambuh. Apa saja?

Berbagai jenis olahraga yang mencegah nyeri sendi kambuh

Nyeri sendi bukan alasan untuk tidak berolahraga rutin. Faktanya, olahraga justru bisa membantu menguatkan otot-otot dan menghindarkan Anda dari gangguan persendian.

Bila Anda sering mengalami nyeri sendi, Anda bisa melakukan olahraga berikut yang tidak akan bikin nyeri sendi makin parah.

1. Peregangan

Lakukan gerakan perenggangan dengan rutin, hal ini dapat membantu melenturkan sendi, sehingga terhindar dari nyeri sendi yang mungkin kambuh. Anda bisa melakukannya setiap pagi, hal ini baik untuk mengawali aktivitas harian Anda. Berikut adalah gerakan peregangan yang harus Anda lakukan:

2. Meregangkan lengan

Peregangan ini adalah dasar yang sebenarnya harus Anda lakukan setiap hari meski tidak punya nyeri sendi sama sekali. Anda bisa mencobanya dengan menekukkan salah satu tangan akan kemudian menyilangkan tangan. Coba seperti gambar di bawah ini.

3. Meregangkan kaki

Persendian kaki dan lengan, biasanya jadi sasaran empuk bagi Anda yang punya nyeri sendi. Cobalah untuk selalu membuat sendi-sendi di kaki dan tangan menjadi lebih lentur. Anda bisa mencoba untuk duduk sambil meluruskan kedua kaki, kemudian usahakan untuk bisa mencium bagian lutu Anda, tanpa kaki melakukan pergerakan sama sekali.

4. Meregangkan leher

Persendian di leher juga menjadi sasaran bila Anda mengalami nyeri sendi. Maka dari itu, untuk mencegah sendi-sendi leher semakin kaku, Anda harus membiasakan diri untuk meregangkan leher. Anda dapat melakukannya dengan memutar kepala dari kanan ke kiri kemudian sebaliknya dan lakukan beberapa kali. Selain itu, Anda dapat memiringkan leher ke kanan maupun ke kiri setelah itu tahan posisi tersebut dalam beberapa detik.

5. Yoga

Ada beberapa pose atau gerakan yang baik untuk mencegah gejala nyeri sendi kambuh. Misalnya pose kobra, yang dilakukan dengan pose telungkup kemudian angkat pelan-pelan kepala serta tubuh bagian atas, menyerupai ular kobra yang sedang marah.

Olahraga lain yang dianjurkan

Tak perlu melakukan olahraga yang berat untuk mencegah nyeri sendi kambuh. Anda hanya perlu melakukan olahraga seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berenang. Ketiga olahraga ini kecil kemungkinannya untuk mencederai sendi. Perhatikan juga kondisi tubuh Anda.

Mulailah olahraga dengan intensitas yang ringan, kemudian bertahap hingga intensitas sedang. Lakukan hal ini setidaknya 30 menit setiap hari. Bila Anda memilih untuk jalan kaki, pilih lintasan atau jalan yang empuk, jangan yang terlalu keras. Misalnya jalan kaki di atas rumput atau tanah daripada di jalan bebatuan atau aspal. 

The post 3 Jenis Olahraga yang Tidak Akan Bikin Nyeri Sendi Kambuh appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2huK08N
via IFTTT
Amniotic Band Syndrome, Ketika Janin Mengalami Amputasi Dalam Kandungan

Amniotic Band Syndrome, Ketika Janin Mengalami Amputasi Dalam Kandungan

Setiap calon orangtua ingin anaknya lahir sempurna dan sehat walafiat. Maka dari itu Anda harus pintar-pintar menjaga kesehatan tubuh dengan pola makan seimbang dan gaya hidup sehat. Namun terkadang, komplikasi kehamilan bisa terjadi tanpa pernah diduga. Salah satu masalah kehamilan yang dapat menyebabkan bayi terlahir cacat adalah amniotic band syndrome. Seberapa bahaya masalah ini?

Apa itu amniotic band syndrome?

Amiotic band syndrome adalah komplikasi kehamilan yang terjadi ketika jumlah cairan ketuban dalam rahim terlalu sedikit, sehingga tidak sepenuhnya membungkus badan janin. Kurangnya cairan ketuban bisa terjadi akibat selaput ketuban yang rusak atau sobek sebagian.

Hal ini dapat menyebabkan jaringan tubuh bayi yang tidak tertutupi cairan ketuban jadi gagal berkembang — hingga bahkan mungkin mati — akibat tidak kebagian asupan makanan dari cairan ketuban.

Maka dari itu ketika janin dilahirkan, akan ada beberapa bagian tubuh yang mengalami kecacatan. Dalam beberapa kasus, bagian tubuh janin yang rusak tersebut bahkan harus diamputasi meskipun ia masih berada di dalam kandungan.

Seberapa sering amniotic band syndrome ini terjadi?

Amniotic band syndrome adalah gangguan kehamilan yang sangat jarang terjadi. Para ahli mengatakan bahwa peluang untuk terjadinya kasus ini adalah 1 banding 1.200 hingga 1 banding 15.000 kelahiran. Sampai saat ini hanya tercatat sebanyak 600 kelahiran bayi di dunia dengan kondisi cacat fisik akibat amniotic band syndrome.

Namun, sindrom ini sulit untuk dideteksi dini. Pemeriksaan kehamilan seperti USG yang dilakukan rutin saat hamil tidak dapat mendeteksi kondisi ini sehingga sangat sulit untuk diketahui.

 

 

janin

Mengapa hal ini dapat terjadi?

Dalam rahim, janin terbungkus oleh selaput yang berisi cairan ketuban sebagai tempatnya bertumbuh kembang. Ada dua jenis lapisan yang melindungi selaput ini, yaitu lapisan amnion dan kronion. Lapisan-lapisan ini berfungsi menjaga agar bayi tetap aman berada dalam cairan ketuban.

Caira ketuban yang terlalu sedikit, entah akibat selaput sobek atau rusak, akan membatasi ruang gerak bayi. Janin yang terus berkembang seiring usia kehamilan akan terus menekan rahim dan akhirnya membuat lapisan terluar, yaitu amnion, rentan robek dan rusak. Hal ini yang kemudian menyebabkan ada anggota tubuh bayi yang berkembang di luar lapisan amion.

Kerusakan selaput amnion juga dapat menghasilkan serat-serat tipis yang dapat membelit bagian tubuh bayi. Ikatan ini dapat menghambat perkembangan anggota tubuh janin yang terikat, atau bahkan mengakibatkan putusnya bagian tersebut.

Sampai saat ini, belum diketahui dengan jelas apa penyebab amniotic band syndrome. Namun, para ahli dapat memastikan bahwa kondisi ini bukanlah terjadi akibat genetik atau keturunan.

Pengobatan apa yang dilakukan jika ibu mengalami kondisi ini?

Karena kondisi ini tidak dapat dideteksi, maka sebagian besar kasus akan ditangani setelah kelahiran. Kecacatan biasanya terjadi pada anggota gerak, seperti jari-jari tangan berdempet menjadi satu atau bentuk kaki yang tidak sempurna, hingga tak menutup kemungkinan juga terjadi pada bagian kepala.

Pada umumnya prosedur amputasi untuk mengangkat jaringan tubuh yang mati dilakukan ketika janin masih dalam kandungan. Namun bisa juga dilakukan ketika ia lahir. Hal ini tergantung dengan masing-masing kondisi janin.

Apa yang terjadi pada bayi setelah lahir  jika saya mengalami hal ini?

Amniotic band syndrome menyebabkan bayi lahir cacat fisik, tergantung dari bagian tubuh mana yang tidak terlapisi selaput amnion ketika masih di dalam kandungan. Untuk pengobatannya pun akan tergantung dengan kondisi bayi masing-masing. Tetapi, karena kondisi ini tak disebabkan oleh kelainan genetik, maka kecacatan fisik yang dialami si kecil dapat ditangani dengan baik melalui operasi bedah.

The post Amniotic Band Syndrome, Ketika Janin Mengalami Amputasi Dalam Kandungan appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2yjcXix
via IFTTT
Awas, Terlalu Memanjakan Lansia Justru Tingkatkan Risiko Kematian

Awas, Terlalu Memanjakan Lansia Justru Tingkatkan Risiko Kematian

Sebagai seorang anak atau cucu mungkin Anda tidak ingin orang terkasih Anda kelelahan karena aktivitas fisik. Padahal, terlalu memanjakan lansia (orang lanjut usia) dengan membiarkan mereka kebanyakan beristirahat justru bisa membuat kondisi kesehatannya memburuk.

Lalu bagaimana caranya menentukan batasan antara aktivitas fisik yang diperlukan oleh lansia dan yang sudah berlebihan? Simak penjelasan di bawah ini, ya.

Kebanyakan lansia cenderung kurang gerak

Penyakit berbahaya seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, obesitas, dan penyakit muskuloskeletal memang sering dialami oleh lansia.

Kurangnya aktivitas fisik ditambah dengan kebiasaan memanjakan lansia secara berlebihan disinyalir sebagai penyebab kesehatan lansia menjadi cenderung lebih lemah.

Menurut penelitian yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology, gaya hidup sedentari (kurang gerak) memang lebih sering dilakukan oleh orang yang berusia 50 sampai 65 tahun. Hampir 80% lansia yang berumur 60 tahun menghabiskan waktunya hanya berbaring atau duduk. Bahkan aktivitas ini berlangsung selama 8 sampai 12 jam per hari. Mereka bisa menghabiskan waktu selama empat jam untuk duduk.

Memanjakan lansia justru bisa meningkatkan risiko kematian

Sebuah penelitian dari University of São Paulo School of Medicine dan Center of Studies and Physical Fitness Laboratory from São Caetano do Sul (CELAFISCS), Brasil, menemukan bahwa seseorang yang menghabiskan waktunya kurang dari 8 jam untuk duduk per hari bisa menurunkan risiko kematian dibandingkan mereka yang senang duduk berjam-jam.

Aktif secara fisik dan tidak melakukan gaya hidup sedentari juga menurunkan angka kematian pada seseorang dibandingkan mereka yang tidak aktif dan senang melakukan aktivitas berbaring dan duduk.

Sedangkan seseorang yang menghabiskan waktunya selama 8 sampai 11 jam atau lebih per hari untuk duduk bisa meningkatkan risiko angka kematian pada mereka. Aktivitas duduk ini per jam-nya bisa meningkatkan risiko kematian sebesar 3%, sedangkan mereka yang menghabiskan waktunya untuk duduk dan berbaring, risiko kematiannya meningkat sebesar 31%.

Sebenarnya penelitian yang mengaitkan gaya hidup sedentari bisa mengakibatkan penyakit berbahaya atau bahkan kematian bukan hal yang baru. Namun, belum ada penelitian yang mengaitkan hal ini dengan risiko kematian pada lansia.

Jangan biarkan lansia mengalami penyakit berbahaya hanya karena Anda tidak mau repot mengajak mereka beraktivitas di luar. Anda juga sebaiknya tidak mencegah lansia untuk berolahraga atau beraktivitas fisik karena takut risiko cedera atau jatuh.

aktivitas fisik bagi lansia

Lansia harus tetap bergerak aktif

Bergerak aktif tidak selalu berarti harus berolahraga seperti sepakbola, tenis, dan bulu tangkis. Aktivitas fisik ini dapat berupa bermain dengan cucu, masak, memelihara taman rumah, berenang, bersepeda, atau berjalan santai di sore hari.

Pokoknya pastikan bahwa lansia tidak hanya duduk atau tiduran sepanjang hari seperti menonton TV di sofa atau membaca buku.

Lebih jauh lagi, berolahraga adalah satu cara untuk memaksimalkan manfaat gerak aktif bagi tubuh. Targetkan untuk melakukan olahraga berintensitas sedang, setidaknya 150 menit setiap minggu. Salah satu cara mencapainya adalah berolahraga sebanyak lima kali seminggu, minimal setengah jam setiap harinya.

Contoh olahraga yang dapat dilakukan di usia lansia antara lain:

  • Berjalan kaki. Pilihlah jalur naik turun yang akan meningkatkan intensitas dan usaha Anda. Aktivitas ini membakar kalori, memperkuat jantung, dan memperlancar sistem pembuluh darah Anda.
  • Bersepeda adalah olahraga yang memperkuat bagian bawah tubuh dan meningkatkan kinerja jantung. Perhatikan setelan sadel dan pegangan sepeda untuk menghindari cedera panggul.
  • Senam bisa jadi pilihan yang baik untuk lansia. Menggerakkan tubuh sambil diiringi musik bersama dengan pasangan atau teman dapat memberikan Anda hiburan sekaligus kebugaran.
  • Berenang adalah olahraga yang melibatkan aktivitas hampir seluruh otot tubuh. Latihan pernapasan selama berenang juga bermanfaat untuk memperkuat jantung.
  • Pilates dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dan memperbaiki postur tubuh. Olah tubuh ini disarankan dilakukan di bawah panduan seorang instruktur.
  • Yoga atau tai chi dapat membantu Anda dalam mengendalikan emosi, meningkatkan fleksibilitas, kekuatan, dan keseimbangan tubuh.

Meski memanjakan lansia bukan ide yang bijak, Anda juga harus perhatikan bahwa tidak semua lansia bisa dipaksa berolahraga. Beberapa jenis olahraga memperburuk risiko penyakit tertentu seperti sakit jantung atau rematik.

Karenanya, selalu konsultasikan dengan dokter tentang olahraga atau aktivitas fisik seperti apa yang paling cocok dan aman buat orang terkasih Anda.

The post Awas, Terlalu Memanjakan Lansia Justru Tingkatkan Risiko Kematian appeared first on Hello Sehat.


Hallo semuanya selamat datang di website dokter yugi selamat membaca artikel menarik tentang kesehatan di sini !
from Hello Sehat http://ift.tt/2znX4az
via IFTTT